| Follow @LimsWebForum |
| Short link : | Tweet | Thread Tools |
| | #1 (permalink) |
![]() Join Date: Dec 2011 Posts: 627
Thanks: 2
Thanked 24 Times in 15 Posts
Rep Power: 3![]() ![]()
Country : " " | Siapakah diantara Anda yang tidak menginginkan untuk dibayar mahal? Meskipun tidak tertarik untuk membayar tinggi terhadap sesuatu yang kita beli, namun kita selalu ingin mendapatkan bayaran yang tinggi. Pertanyaannya adalah; Apa yang membuat seseorang layak untuk mendapatkan bayaran mahal? Ada begitu banyak jawaban atas pertanyaan itu. Diantaranya ada yang menjawab ‘keahliannya’, ‘masa kerjanya’, dan ada pula yang menjawab ‘jabatannya’. Saya ingin mengajak Anda untuk menguji kebenaran jawaban itu, dengan menggunakan prinsip-prinsip Natural Intelligence (NatIn™). Mari kita mulai dengan menyimak 3 situasi berikut ini: 1. Keahlian. Banyak sekali orang yang memiliki kemampuan tinggi namun mereka tidak tertarik untuk benar-benar mencurahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya hingga bisa menghasilkan sebuah karya yang betul-betul bernilai tinggi. Mereka sudah mengikuti berbagai macam program pelatihan, diklat, bahkan ada yang begelar master dan doktor; namun kinerjanya tidak jauh berbeda dengan orang lain yang tingkat kemampuannya berada dibawah mereka. Jika Anda mempunyai kolega yang kinerjanya sama saja dengan Anda, namun kolega Anda itu mendapat bayaran lebih mahal dari Anda, apakah Anda rela? Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun mempunyai kualifikasi keahlian yang tinggi, hal itu tidak berarti secara otomatis menjadikan seseorang layak mendapatkan bayaran yang mahal. 2. Masa kerja. Kita mengenal begitu banyak orang yang memiliki masa kerja yang sangat lama sekali. Namun semakin lama mereka bekerja, mereka semakin merasa bosan dengan pekerjaannya. Setiap hari mereka berangkat dari rumah kekantor dengan perasaan yang sangat berat didalam dada. Begitu tiba diruang kerja, mereka duduk di kursi kerjanya tanpa gairah. Ketika mengerjakan tugas-tugasnya, mereka merasakan kehampaan sehingga yang penting bisa muncul di kantor pada jam kerja, dan semua pekerjaan ‘dikerjakan’ alakadarnya saja. Menurut pendapat Anda, apakah orang-orang seperti itu layak mendapatkan bayaran yang mahal? Fakta ini pun menunjukkan bahwa meski mempunyai masa kerja lama, namun seseorang tidak secara otomatis layak mendapatkan bayaran yang mahal. 3. Jabatan. Ada cukup banyak kejadian dimana orang-orang yang memiliki jabatan tinggi terlena dengan jabatannya sampai-sampai mereka lupa untuk terus mengembangkan diri sehingga orang lain berkembang lebih pesat dan lebih cepat dari dirinya. Beberapa tahun kemudian, mereka baru sadar jika dirinya sudah tertinggal jauh oleh orang-orang yang sebelumnya berada dibelakang mereka. Fakta ini pun menunjukkan kepada kita, bahwa menduduki jabatan tinggi bukanlah jaminan bahwa seseorang layak mendapatkan bayaran yang mahal. Selanjutnya, mari kita simak 2 situasi lainnya berikut ini: 4. Ketulus-ikhlasan. Banyak contoh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tulus dalam bekerja. Mereka memulai karir dari tingkatan yang tidak terlalu bergengsi. Namun ketulusannya dalam bekerja telah membawanya kepada dedikasi yang begitu tinggi sehingga setiap hari ketika berangkat dari rumah, mereka bertekad untuk memberikan kontribusi terbaik melalui pekerjaannya. Ketika tiba di kantor, mereka bergembira untuk mengerahkan seluruh kemampuan, keahlian dan daya diri yang dimilikinya kedalam pekerjaan dan tugas-tugas yang ditanganinya pada hari itu. Setiap pekerjaan yang diterimanya diselesaikannya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada cacat yang dibiarkannya menodai hasil kerjanya. Ketika hari menjelang sore, mereka merasa puas dengan semua upaya yang sudah dikontribusikannya sepanjang hari itu sehingga mereka meninggalkan kantor dengan perasaan lega dan lapang dada. Setibanya di rumah, mereka bersyukur karena hari itu telah berhasil menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Maka ketika bertemu dengan istri atau suami dan anak-anaknya mereka masih menyisakan rasa gembira itu sehingga bisa menikmati saat-saat di rumah bersama keluarganya. Mereka puas dengan kehidupan rumahnya. Dan mereka tulus ikhlas dalam menjalani kehidupan kerjanya. Keesokan harinya, mereka berangkat ke kantor lagi dengan semangat dan antusiasme yang tinggi seperti dihari-hari sebelumnya. 5. Perilaku positif. Menjelang akhir tahun tiba selalu ada penilaian terhadap kinerja setiap karyawan. Selain hasil kerja, juga dinilai perilaku kerja dan bagaimana karyawan menjalani hari-harinya di kantor. Atasan tidak hanya menilai segala sesuatunya diatas kertas, melainkan merasakan suasana dan dampak dari kehadiran setiap karyawan di ruang kerjanya masing-masing. Pelanggan juga sama. Mereka bisa merasakan pelayanan istimewa yang diberikan oleh orang-orang yang tulus dengan pelayanan asal-asalan dari mereka yang bekerja secara terpaksa. Cara mereka tersenyum. Cara mereka menyapa. Cara mereka melakukan sesuatu untuk pelanggannya, sungguh sangat berbeda sehingga pelanggan bisa merasakannya dengan jelas dan membedakannya secara kontras. Tidak heran jika atasan, teman, maupun pelanggan mereka memberikan nilai yang tinggi atas kualitas kerja yang sudah didedikasikannya. Klik sumbernya di sini ********************************** |
| | |
![]() |
| Thread Tools | |
| |